Judul buku : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2018



Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka. 




Represi menjadi buku kedua Fakhrisina Amalia yang kubaca setelah Persona. Flashback mengenai Persona, tentu saja aku jatuh cinta dengan bukunya, terutama twistnya yang gak disangka-sangka. Aku gak menyangka Represi merupakan hasil dari tulisan apa yang dirasakan penulis selama ini. Semuanya diterangkan di akhir buku. 

Berbeda dengan Persona, yang tidak dapat ditebak, jujur saja aku sudah tau inti cerita yang disajikan di Represi. Represi tidak memiliki konflik inter-personal, melainkan konflik intra-persoanal, which mean konflik dengan dirinya sendiri. Tapi, aku suka dengan alurnya yang maju-mundur, terasa pas dan nyata. 

Konflik yang disajikan sederhana, meliputi depresi dan cenderung gelap di antara hubungan cinta pria dan wanita. Tapi siapa sangka, kesederhanaannya berhasil meninggalkan dampak yang mendalam, berhasil membuka luka lama yang sudah terpendam dengan baik. Ingin rasanya aku menangis ketika baca buku ini, tapi apa jadinya kalau aku menangis di tengah semrawut kereta komuter? 

Aku tipe pembaca cepat. Tapi untuk buku ini, aku kecualikan. Bagaimana bisa aku membaca dengan cepat kalau setiap baca dadaku merasa sesak? Bagaimana bisa aku membalikkan halaman kalau air mata rasanya mau tumpah setiap membacanya? 
Setelah baca ini, aku baru menyadari.. Kapan terakhir kali aku membaca buku yang begitu menyentil? Yang begitu mendalam? 
Sedalam itu buku ini buatku. 
Semua orang membuat  kesalahan, dan hampir semua orang membuat kesalahan besar. Kewajiban kita adalah meminta maaf. Sementara memaafkan-atau nggak--adalah hak orang yang kita lukai. Tapi merasa nggak pantas dimaafkan bahkan sebelum mencoba meminta maaf? Itu sudah bukan lagi masalah dengan orang lain, Anna."
Aku menyukai berbagai bentuk terapi psikologis di buku ini. Menjadikan menggambar menjadi katarsis, untuk mengeluarkan emosi yang dirasakan. Aku mengenalnya dari buku ini. Setelah baca buku ini juga aku menyadari kalau aku membutuhkan suatu hal yang harus aku jadikan katarsis. Yang bisa dengan rela aku tumpahkan semua emosiku. Ah, aku gak bisa berkata apa-apa tentang buku ini.

Mengenai tokoh pun rasanya aku gak tau lagi harus bilang apa. Anna membuatku merasa simpati, sekaligus seperti bercermin. Anna membuatku enggan untuk melanjutkan membaca, tapi aku gak bisa berhenti. Anna membuatku merasakan apa yang dia rasakan. Sesak, perih, luka, seluruh kesedihan dan kegelapan yang dirasakan Anna semuanya kurasakan. 
Tokoh lain pun sesuai dengan porsi masing-masing, seperti tau kalau ini 'tentang Anna', bukan tentang mereka. 

Aku sangat takjub dengan penulis. Walaupun penulis merupakan psikolog, menggambarkan apa yang dirasakan Anna hingga bisa menimbulkan efek dalam ke pembaca menurutku sulit. Entahlah.
Pada catatan penulis, Represi lahir ketika dia merasa ketakutan. Mungkin itu sebabnya. Karena Anna adalah penulis itu sendiri. Walaupun tidak se-ekstrem Anna. 

Makna di buku ini pun juga sangat banyak. Hampir di setiap lembarannya kita bisa mengambil makna atau hikmah. Baik dalam hubungan Anna dengan orang tuanya, Anna dengan sahabatnya, Anna dengan langitnya, bahkan Anna dengan Nabila, Psikolog yang membantu Anna.
Mungkin karena ini jugalah yang bikin buku ini penuh dengan emosi, penuh dengan luka luka dan tangis pada setiap yang membacanya.

Bagiku buku ini seperti tak ada cela. Seperti tak ada pertanyaan yang belum terjawab. Sudah saatnya aku melepaskan buku ini dan mengenangnya, menutup seluruh luka dan kesedihan. Seperti Anna melepaskan langitnya.